Rendah Hati, Karakter Atau Sikap?

Kerendahan hati merupakan salah satu ajaran dan teladan dari Tuhan Yesus Kristus agar kita bisa mencontoh Dia menjadi pribadi yang rendah hati. Allah Bapa disurga juga adalah pribadi yang rendah hati dan tidak menyukai kesombongan. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah (Lukas 1:52). Kerendahan-hati juga merupakan sebuah karakter (sifat) sekaligus sebuah sikap (perilaku).

Kerendahan-hati disebut sifat karena kerendahan-hati berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Kerendahan-hati disebut perilaku karena kerendahan-hati harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh khalayak umum dikenal sebagai tanda-tanda kerendahan-hati. Kerendahan-hati sejati muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti 2 sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikap atau perilakunya itu adalah suatu rekayasa dan bukan merupakan dorongan alamiah dari hatinya.

Di tengah zaman yang penuh kompetisi seperti sekarang ini, sangatlah sulit untuk menemukan orang yang rendah hati. Bahkan, mungkin telah ada keraguan bagi sebagian orang bahwa kerendahan-hati sudah tidak relevan lagi pada zaman atau situasi dan kondisi saat ini karena dianggap sebagai penghalang keberhasilan, sehingga “rendah hati” mulai ditinggalkan oleh banyak orang. Keinginan sebagian besar orang untuk “menjadi seseorang” (to become someone) dan penolakan untuk menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi penyebabnya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting, menjadi berarti dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, terjadi persaingan yang sangat ketat untuk menjadi penting dan berarti itu.

Kerendahan-hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1 Petrus 5:6). Syarat untuk mendapatkan promosi atau peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya.

Seseorang yang memiliki kerendahan-hati memiliki 2 hal dasar ini:

1. Berani mengakui kesalahan. Karena gengsi, sedikit orang berani mengakui kesalahan sendiri di depan sesamanya, bahkan di hadapan Tuhan; mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” (Amsal 28:13).

2. Mau belajar dan diajar. Proses ‘belajar dan diajar’ itu tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah atau kampus, tetapi juga didapat melalui ‘sekolah’ kehidupan, ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada. Proses ini tidak mengenal batasan usia dan waktu… “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17).

Mari kita sama-sama belajar untuk rendah hati seperti Yesus. Sebab dengan cara demikian, kita pun dapat dimuliakan oleh Tuhan pada waktu-Nya. Segala sesutu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan kita. Kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita itulah yang disebut karakter kita. Bila kita membiasakan diri untuk hidup dalam kerendahan hati maka lambat laun kita akan memiliki karakter kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah sebuah karunia Roh melainkan karakter yang harus terus dilatih. Dan ketahuilah, rendah hati bukanlah sebuah kehinaan. Justru orang yang rendah hati adalah orang yang besar, karena ia mampu menekan egonya dan memilih untuk melayani orang lain.

“Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” Amsal 18:12

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Revivo. All Rights Reserved

Log in with your credentials

Forgot your details?