Anak Terlindungi, Indonesia Maju

Tema yang diangkat pada perayaan Hari Anak Nasional tahun ini adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Kenapa terlindungi? Karena faktanya dari 79 juta lebih anak Indonesia, di antaranya adalah anak- anak yang harus mendapat perlindungan khusus, terutama yang dalam situasi darurat seperti ini di tengah pandemi COVID-19.

Banyak orang tua atau orang yang lebih tua yang kurang atau bahkan tidak mengerti bagaimana cara membesarkan anak secara bijaksana. Banyak diantara mereka yang melupakan pentingnya kasih sebagai dasar kehidupan yang seharusnya juga menyentuh hubungan antara orang tua dengan anaknya. Kita melihat anak-anak yang tumbuh dari keluarga yang keras dan kasar akhirnya menjadi orang-orang dengan mental yang keras juga. Output-nya pun kemudian bisa bermacam-macam. Hal itu masih beruntung dibanding anak-anak lain yang mungkin nyawanya harus berakhir bukan ditangan orang lain, tetapi justru ditangan orang tuanya sendiri.

Di satu sisi, anak-anak memang terkadang harus dihukum agar menyadari kesalahan mereka dan tidak mengulangi kesalahan mereka lagi. Tetapi bentuk kekerasan fisik yang berlebihan bisa berakibat fatal, baik bagi masa depan mereka maupun nyawa mereka. Jika kita berpikir bahwa kekerasan fisik saja yang menjadi masalah, ada banyak pula anak-anak yang menjadi kacau karena sering dimaki, dikutuk atau dihujani kata-kata kasar dalam frekuensi tinggi. Tanpa disadari, hal seperti ini kemudian menghancurkan mental mereka hingga dewasa.

Alkitab menyatakan dengan jelas agar orang tua bertindak bijaksana dan berhati-hati dalam mendidik atau menghukum anak-anaknya. “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21). Hati yang terlanjur tawar atau mungkin sudah pahit seringkali susah untuk dipulihkan. Jangan sampai karena tidak mampu menahan emosi kita bertindak melewati batas dan meninggalkan luka di hati mereka. Itu bisa berpengaruh besar terhadap masa depan mereka.

Pada kesempatan lain kita pun membaca “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan. Jelas dikatakan bahwa anak-anak haruslah dididik dalam ajaran dan nasihat Tuhan, dan kekerasan baik secara fisik maupun mental bukannya membuat mereka mengenal Tuhan, tetapi justru sebaliknya akan membuat mereka tawar dan sulit untuk percaya kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan.

Betapa indahnya pesan dalam Mazmur yang berkata: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.”(Mazmur 127:4-5). Anak-anak, itu adalah bagaikan anak panah di tangan seorang pahlawan. Selayaknya pahlawan yang sedang memanah, ia harus pintar mengarahkan busurnya ke arah yang dituju, bukan menembak sembarangan. Apa yang bisa dipetik sebagai hasilnya bukan saja bermanfaat bagi masa depan anak-anak saja, melainkan orang tuanya pun kelak akan merasakan kebahagiaan lewat mereka.

Betapa manusia sering lupa bahwa anak bukanlah hasil dari hubungan suami istri semata, tetapi seperti apa yang dikatakan Alkitab, anak merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. (Mazmur 127:3) Jadi bukan saja anak laki-laki, tetapi anak perempuan pun merupakan pusaka yang indah dari Tuhan. Jika kita menyadari kehadiran mereka sebagai anugerah yang sangat indah, bukankah itu berarti bahwa kita harus mensyukurinya dengan bertanggung jawab penuh atas mereka? Dan kekerasan atau makian jelas tidak termasuk di dalamnya.

Orang tua butuh memiliki hikmat Tuhan agar bisa mendidik anak-anak mereka dengan bijaksana. Dan Firman Tuhan berkata bahwa “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (Amsal 9:10). Awalilah langkah dengan rasa segan dan hormat akan Tuhan, dan dari sana melangkahlah maju dengan berpusat terus di dalamnya.

Memang terkadang dibutuhkan kesabaran terlebih dalam menghadapi anak-anak yang tingkat kenakalannya di atas normal, dan jangan lupa bahwa bersama Tuhan kita akan bisa lebih sabar dalammenghadapi segala masalah. Ingatlah bahwa Firman Tuhan berkata: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32). Tuhan menghargai kesabaran kita dengan begitu tinggi, karena selain dalam kasih itu memang terdapat kesabaran (1 Korintus 13:4) dan kita harus mengaplikasikan kasih dalam segala hal, kita pun harus sadar pula bahwa tanpa kesabaran kita bisa terjerumus melakukan banyak hal yang akan kita sesali di kemudian hari.

Melindungi anak tidak hanya sekedar melindungi mereka dari kekerasan baik secara verbal maupun non-verbal. Meelindungi anak dari segi kesehatan, pendidikan itu juga sebuah keharusan. Di tengah pandemic ini, isu pendidikan selama masa pandemi menjadi wacana dan perhatian banyak pihak. Kebijakan belajar di rumah juga menimbulkan persoalan-persoalan baru bagi anak, terutama kesenjangan kualitas pendidikan yang semakin tinggi. Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan Indonesia mengatakan, “Setiap orang adalah murid, setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah.” Peran keluarga, teman sebaya, dan lingkungan bagi anak selama masa pandemi ini menjadi penting. Di tengah situasi pandemi ini, anak-anak juga adalah korban yang terdampak dan seringkali terlupakan. Adalah tugas bersama untuk memastikan #AnakIndonesiaGembiradiRumah dan sesuai dengan tema Hari Anak Nasional tahun ini, jika anak terlindungi, maka Indonesia maju.

Selamat merayakan HARI ANAK NASIONAL!

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Revivo. All Rights Reserved

Log in with your credentials

Forgot your details?