Jangan Beri Ruang Bagi Iri Hati untuk Tinggal di Dalam Kamu

Ibarat seorang monster jahat, iri hati bisa menjadikan kita jadi semakin jauh dari Tuhan. Masalahnya, iri hati ini sering terjadi tanpa kita sadari. Misalnya saja, ketika kita melihat orang yang sering mengunggah foto jalan-jalan ke Eropa di Instagram, tanpa sadar kita jadi bilang, “Kok hidup orang ini enak banget sih. Aku juga mau dong seperti dia.”

Iri hati yang juga sering disebut sebagai dengki atau hasad merupakan sebuah emosi yang tidak senang atas keunggulan atau hal yang dimiliki oleh orang lain. Setiap kita bisa terjerat oleh perasaan iri hati. Raja Saul juga larut dalam iri hati ketika pujian yang diterima oleh Daud lebih banyak daripada pujian yang diterimanya.

“Saul membunuh beribu-ribu musuh, tetapi Daud berpuluh-puluh ribu” (1Sam. 18:7 BIS). Saul menjadi sangat marah dan “sejak hari itu ia iri hati kepada Daud” (ay.9 BIS). Saul sangat murka karena hal ini, sehingga ia berusaha untuk membunuh Daud.

Biasanya, iri hati datang dari tindakan kita yang suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Padahal setiap kita sudah diberi berkat oleh Tuhan. Dalam Efesus 4:20-24, kita diajarkan untuk menyikapi iri hati ini. “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Yonatan dan Daud, mengubah perasaan iri hati dengan kasih

Kita pasti tidak asing dengan cerita dari Daud dan Yonatan. Kalau kita lihat kembali, Yonatan selalu punya celah untuk bersikap iri hati pada sahabatnya, Daud. Yonatan adalah anak tertua dari Saul, dimana seharusnya ialah yang menjadi raja berikutnya. Namun, ia tahu betul kalau Tuhan sudah memilih Daud untuk menjadi raja Israel berikutnya.

1 Samuel 18:1, "Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri." Yonatan mengasihi Daud sebagai jiwanya sendiri. Bahkan ketika ada kesempatan baginya untuk bertindak sebagai musuh Daud, ia malah memilih untuk melindungi Daud.

Kasih adalah obat yang paling manjur untuk menghilangkan rasa iri hati. Kisah Daud dan Yonatan ini adalah contohnya. Contohlah sikap Yonatan ini dengan menunjukkan kasih dan bersyukur atas keberhasilan dari orang yang kepadanya kita sering bersikap iri hati, juga meminta Tuhan untuk terus menyertai kesuksesan dari orang tersebut

Kain dan Habel yang ajari untuk gantikan iri hati dengan ketekunan

Ketekunan dan sikap iri hati bukanlah sesuatu yang dengan mudah bisa berjalan berdampingan. Ketekunan menciptakan sikap yang produktif, sementara iri hati cenderung merusaknya. Ketika melihat ada orang lain yang dinilai ‘lebih’, kita akan cenderung melihat rendah orang tersebut, bukannya memotivasi agar kita bisa menjadi setara dengan mereka.

Masih ingat marahnya Kain karena hanya pengorbanan Habel yang diterima oleh Tuhan? Ketika Tuhan menghardik Kain, Ia memberi sebuah nasihat klasik yang pasti sering kita dengar dari orang tua kita: Kejadian 4:6-7, “Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

Belajar dari kisah Kain dan Habel, iri hati juga sering terjadi saat kita mendapati orang lain mencapai sesuatu yang tidak bisa kita capai.

Ketika ada orang yang jauh lebih sukses dari kita, cobalah ambil waktu sejenak untuk melinik kembali orang tersebut. Ada berapa harga yang harus ia bayar untuk sampai di titik tersebut. Mungkin kita masih berada di titik tersebut karena memang belum punya wadah yang cukup untuk menerima pencapaian tersebut.

Dalam prakteknya, sebuah ketekunan dapat menjadi sebuah senjata untuk memerangi sikap iri hati. Cintailah Tuhan melalui pekerjaan kita, apapun yang kita lakukan. Sebab Tuhan sendiri mau kita bekerja untuk Tuhan, bukan sekedar untuk manusia.

Jangan beri ruang bagi iri hati untuk tinggal di dalam kamu, karena ia hanya bisa merusak dan menghancurkan kehidupan mu. Mulai sekarang, cobalah untuk melihat apa yang ada pada diri sendiri, bukan pada orang lain. Kalaupun kita merasa kurang dari yang lain, ambillah waktu sejenak. Ada banyak hal yang selalu bisa kita syukuri dalam kehidupan ini. Sebab, Tuhan akan selalu memberikan karya yang terbaik buat setiap kita.

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

©2018 Revivo. All Rights Reserved

Log in with your credentials

Forgot your details?